Much. Khoiri

Penggerak literasi, trainer, editor, dan penulis buku 33 judul dalam 6 tahun. Alumnus International Writing Program di University of Iowa (USA, 1993)...

Selengkapnya
Bakat Menulis

Bakat Menulis

Oleh MUCH. KHOIRI*

“Everyone has talent. What is rare is the courage to follow the talent to the dark place where it leads.” - Erica Jong

Dalam berbagai kesempatan, tidak sedikit orang yang mengatakan alasan mereka untuk tidak menulis. Alasan itu adalah bakat menulis. Kata mereka, mereka tidak menulis karena tidak berbakat menulis. Pertanyaannya, apakah itu sebenarnya sebuah alasan bagus (reason) ataukah hanya kilah dan dalih (excuse) belaka?

Dalam kutipan di atas Erica Jong menegaskan, setiap orang memiliki bakat. Yang langka adalah keberanian orang itu untuk mengikuti bakat tersebut ke tempat gelap yang ia arahkan.

Mengikuti ungkapan bijak Erica Jong, setiap orang—ya, setiap orang—memiliki bakat menulis. Meski demikian, jarang sekali orang berhasil menjadi penulis sukses karena jarang sekali orang yang memiliki keberanian untuk mengikuti bakat tersebut hingga ke tempat gelap yang ia arahkan.

Hal ini identik dengan kasus, banyak orang ingin sukses menjadi pengusaha namun tidak mau berusaha keras dan cerdas. Mereka hanya bermimpi berada di puncak-puncak sukses tanpa mau menempuh ribuah langkah menuju puncak-puncak itu. Adakah bakatnya? Dia punya bakat jadi pengusaha, namun tidak mengembangkannya.

Dengan demikian, jika ada orang mengatakan bahwa dia tidak berbakat menulis, itu sebenarnya bukanlah alasan, melainkan hanya kilah dan dalih saja. Dia mencari pembenar untuk dalihnya untuk tidak menulis; padahal ia hanya malas belaka. Dia mengingkari potensi tersembunyi yang dia bawa sejak lahir.

Memang, bakat menulis mengarahkan seseorang ke “tempat gelap” selama menulis. Istilah “tempat gelap” bisa mengacu ke kendala, kesulitan, kelelahan, penolakan, kebuntuan, keputusasaan, dan sebagainya. Itulah tempat yang harus dilalui oleh seseorang untuk menghasilkan tulisan. Panjang dan berliku!

Untuk membuat sebuah karya tulis (ilmiah), misalnya, orang harus menemukan ide yang bagus, membaca sumber dan buku referensi, membuat outline, menulis draf tulisan, mengedit, merevisi, dan memfinalkan draf itu. Ketika tulisan sudah jadi, draf itu mungkin dinilai orang lain belum layak; dan karena itu, dia harus merevisi ulang draf itu—bahkan bisa berkali-kali—hingga diperoleh tulisan yang layak.

Kebanyakan orang tidak berani atau tidak mau menempuh dan melalui proses menulis yang gelap melelahkan itu. Kebanyakan orang, jika mungkin, lebih suka proses instan, bim salabim; tahu-tahu sebuah tulisan jadi. Ironisnya, sebagian orang akhirnya berani memplagiat karya orang lain—berani melecehkan bakatnya sendiri, dan berani merendahkan martabatnya sendiri.

Jadi, begitulah, setiap (calon) penulis harus berani mengembangkan bakat menulisnya untuk melalui lorong gelap penulisan sebuah tulisan. Dengan mengembangkan bakatnya, Albert Camus menciptakan novel The Stranger. Demikian pula Iwan Simatupang dengan Merahnya Merah, Budi Darma dengan Olenka, atau Emha Ainun Najib Seribu Masjid Satu Jumlahnya.

Untuk kondisi dewasa ini, Andrea Hirata juga menggembleng bakatnya untuk menghasilkan Laskar Pelangi, Habiburrahman Elshirazy untuk Ketika Cinta Bertasbih, atau Seno Gumira Ajidarma untuk Saksi Mata. Masih ada deratan penulis Indonesia yang pasti telah menghabiskan waktunya untuk menghasilkan karya terbaiknya berkat bakat yang dikembangkannya.

Memang tak bisa dimungkiri, bahwa bakat menulis seseorang lebih tinggi dari pada orang lain. Namun, apa gunanya bakat menulis tinggi jika tidak dikembangkan? Bukankah hal ini identik dengan kasus (calon) pengusaha yang gagal karena tidak berusaha keras meski sebenarnya dia berbakat penguasaha?

Yang ideal, tentu saja, orang yang memiliki bakat besar menulis, dan mengembangkannya. Namun, siapa yang mengetahui bakatnya sendiri hingga dia mempraktikkannya, serta mendapati bahwa dia memiliki bakat tertentu? Maka, lupakan kondisi ideal ini. Berangkatlah dari titik ini: berani atau tidak mengembangkan bakat menulis?

Keberanian mengembangkan bakat menulis, mengharuskan orang untuk berlatih tanpa kenal lelah. Dia menyadari, bahwa untuk menguasai kemampuan menulis, dia harus menulis, menulis dan terus menulis. Latihan menulis bisa dilakukan di mana pun, dan kapan pun.

Hanya dengan keberanian menempuh latihan panjang dan terus-menerus, dan menghadapi berbagai kendala di dalamnya, orang akan berhak menghasilkan sebuah karya tulis. Dalam jangka waktu tertentu, dia akan terbiasa dengan serangkaian proses itu, dan pada saatnya dia akan menjadi seorang penulis.

Sebagai penutup, mari renungkan ungkapan Ralph Waldo Emerson ini, “Talent alone cannot make a writer. There must be a man behind the book.” Bakat sendiri tak bisa membuat orang menjadi penulis. Harus ada seseorang di balik buku. Yakni, orang yang berani mengikuti jalan gelap selama menulis buku. ***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Setujuuuu Harus berani menulis

25 Feb
Balas

Bu Sri, mantabs. Smg sehat dan kreatif selalu.

25 Feb

"Kita punya bakat nulis." Sip... Tinggal tingkatkan kualitasnya.

25 Feb
Balas

P Sutanto, sepakat. Meningkatkan itu yg tidak mudah dilakukan. Kita harus membunuh kemalasan

25 Feb

Luar biasa pak Khoiri, sarapan pagi yang lezat dan bergizi

25 Feb
Balas

P Syaihu, terima kasih banyak. Smg sht sll

25 Feb

Menulis itu mudah pak. Menerbitkanya menjadi buku atau artikel bernilai yang susah. Mudah itu misalnya, tiap hari orang buat status di FB, Twitter atau WA. Hehe....

25 Feb
Balas

Nah, itu maksudnya, kalau menulis sekadar menulis tentu mudah. Namun, menulis karya yang bagus, itu yg sulit. Perlu lstihan yg banyak dan berkelanjutan. Tmksh Pak

25 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali