Much. Khoiri

Penggerak literasi, trainer, editor, dan penulis buku 33 buku dalam 6 tahun. Alumnus International Writing Program di University of Iowa (USA, 1993);...

Selengkapnya

DUNIA INI SEKOLAH

Oleh: MUCH. KHOIRI

Dunia ini sekolah, dan hidup ini kitab pelajaran. Tuhan telah menyediakannya untuk kita. Kehadiran kita di dalamnya bukanlah sia-sia dan main-main, melainkan untuk belajar menjadi manusia yang seutuhnya. Terhampar ayat-ayat Tuhan yang tertulis dan tak tertulis yang dapat dibaca dan dipetik hikmahnya.

Kita penduduk langit yang mengembara, dan hadir ke dunia untuk bersekolah. Itulah yang diteladankan oleh Adam dan Hawa beserta penerusnya untuk sekian generasi. Dan kita tak mungkin mengkhianati takdir, sebagaiman juga diteladankan oleh Adam dan Hawa beserta sekian generasi penerusnya, bahwa manusia mesti ridha menjadi manusia agar mendapat ridha-Nya.

Karena dunia itu sekolah, maka ia harus dijaga dan dirawat dengan segenap hati. Ia wajib dijaga kebersihannya, dan dirawat kesehatannya, agar ia juga ramah dan bersahabat dengan kita. Dunia itu makhluk, dan kita wajib berbaik-baik dengan dunia sebagai makhluk, agar ada kesalingpahaman yang selaras dan saling menguntungkan---agar ada keamanan dan kenyamanan di dalamnya.

Lalu, kita belajar kitab hidup sebagai pelajaran. Begitu beragam ayat bertebaran di depan mata, mulai kita berada dalam ayunan hingga kita memasuki liang lahat. Kitab hidup itu menyediakan bahan-bahan melimpah bagi kita untuk berpikir (tafakur) mengenai mengapa kita diciptakan dan untuk apa. Ada yang berupa pengetahuan, ada pula yang berupa laku (amalan). Bukankah religi adalah perpaduan ilmu dan amal?

Tentu saja, dalam merawat dunia dan belajar (tentang) hidup, ada di antara kita yang sungguh-sungguh, ada pula yang hanya main-main belaka. Maka, wajar sebagian dari kita menjadi pintar dan bijak daripada yang lain. Sebaliknya, ada pula sebagian dari kita yang tetap bodoh karena tidak pernah mau belajar. Padahal kita tahu kebodohan manusia potensial menjadi sumber kehancuran dunia.

Menjadi pintar, sebenarnya, hanya cukup satu langkah besar, yakni belajar giat berkelanjutan sepanjang hayat. Pintar itu ranahnya pengetahuan, dan ia dihasilkan lewat tafakur. Di atas pintar ada bijak (wise). Untuk menjadi bijak, kita tidak hanya rajin belajar, melainkan juga mengamati, menghayati, dan memetik hikmahnya. Tentu, manusia seutuhnya, seyogianya pintar dalam pengetahuan, dan bijak dalam bersikap dan berprilaku.

Nah, sudah berapa tahun kita berada di sekolah dunia ini? Sudah seberapa pintar dan bijak kita sekarang dalam memastikan posisi diri atas keridhaan kita sebagai makhluk-Nya? Lalu, apakah kita sudah pantas untuk menjadi manusia yang ilmunya bermanfaat bagi meraih ridha-Nya, sehingga kelak kita kembali kepada-nya dengan ridha dan diridhai?[]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali