Much. Khoiri

Penggerak literasi, trainer, editor, dan penulis buku 33 judul dalam 6 tahun. Alumnus International Writing Program di University of Iowa (USA, 1993)...

Selengkapnya
DUREN YANG MENGGODA
Sumber gambar: img.antaranews.com

DUREN YANG MENGGODA

Oleh MUCH. KHOIRI

Pagi ini gowes saya jeda dengan turun minum di kedai nasi Mba Is, perempuan baja dari Jombang. Segelas teh panas terasa melegakan. Seluruh badan sudah gobyos, bahkan dari lengan jaket parasut saya menetes keringat. Sambil berdiri menggerak-gerakkan kaki, saya seruput kembali teh tubruk yang mantap ini.

Mata saya langsung terpaku pada tumpukan duren di atas pikap. Maklum, penjual buah itu ada di samping kedai Mbak Is; dan saya juga pelanggan tetap penjual buah itu. “Rasakan satu aja, Bos,” ujarnya. “Masih gres. Yang besar ini seratus saja.”

“Sekarang ga boleh makan duren, Mas,” jawab saya.

“Lho, kenapa?”

“Asam aurat, eh, maksud saya, asam urat.”

Isok ae bos iki (bisa saja bos ini). Kalau makan, ga boleh. Kalau incip-incip, masak dilarang?” Dia tampak membersihkan duren-duren itu, menciumnya untuk mengenali kematangannya.

Saya mendekati duren yang ditata rapih itu. Saya pungut satu, saya cium pantatnya. “Ah, kini belum sepenuhnya matang. Baru matang besok.” (Si penjual pun mengangguk.) Lalu, saya memungut satu lagi, dan mencium pantatnya lagi. “Nah, ini dia. Mantaps.”

Beberapa tahun silam, saat tensi saya rendah, duren adalah camilan saya. Di mana pun ada duren, di situ saya beli dan memakannya. Saya tak peduli harga, saat itu. Sebab, dengan makan duren, tensi segera normal. Namun, sekarang, duren termasuk “benjoli”, akronim untuk makanan pantangan untuk penghayat asam urat seperti saya. (O ya, apakah saya masih menjalani sakit ini ya—nyatanya, selama ini sudah baik-baik saja.)

Masih gobyos kotos-kotos, saya telepon isteri. Jika mau makan duren, saya bawakan, begitu isi pesan saya. Katanya, dia hanya tertarik makan duren yang besar dan matang. Kalau hanya setengah matang, lebih baik tidak. Dengan gambaran yang saya sampaikan, dia pun berterima kasih. Rupanya sudah kangen juga makan duren.

“Mas, jadi berapa harganya?” Saya memegang duren asal Semarang sebesar kepala anak SMP ini.

“Pelaris, Bos. Jadi, seratus!”

“Sembilan puluh.”

“Ya sudah, masing-masing sembilan puluh.”

“Oke, bungkus!”

Begitulah, dalam hitungan detik, uang sudah berpindah tangan. Namun, karena saya tidak bisa membawa duren besar-besar dengan naik sepeda onthel, saya pun menitipkannya. “Nitip dulu ya. Abis ini saya akan ambil dengan sepeda motor.” Saya pun meneruskan gowes.

***

Menjelang tengah hari, isteri dan anak minta dibukakan duren, yang sengaja saya gantung di beranda. (Saya tak mau baunya memenuhi rumah. Duren sematang itu pastilah bisa menebarkan aroma yang ‘memusingkan’ seisi rumah.) Dan, dalam sekejap duren sudah saya buka, dan isinya sudah berpindah ke dalam tupperware.

Isteri dan anak menikmati duren itu di ruang keluarga. Kelihatan begitu menikmatinya. Sudah beberapa bulan ini mereka tidak pernah makan duren. Ibaratnya, mereka sudah kangen dengan salah satu buah kesayangan mereka. Mereka mengacungkan jempol. “Mantap tenan. Ini baru duren.”

“Coba dikit saja, ga apa-apa, Mas. Bismillah,” begitu ujar isteri saya. Dia selalu begitu. Andalannya adalah bacaan basmalah. Dengan basmalah, dia selalu merasa aman. Anak saya, demikian pula. “Bismillah saja, Yah. Kan sudah ada penawarnya. Abis makan dikit, nanti minum obatnya. Beres lah.”

Mungkin mereka juga kasihan pada saya. Membelikan kok tidak merasakan. Padahal, kondisi badan saya fit—dan tak pernah mengeluh terkait asam urat. Sementara itu, saya juga menghargai tawaran mereka. Saya pikir-pikir, ada benarnya pula untuk mengincip sedikit.

Benar, saya tergoda pula. Ini pertama kali dalam dua tahun ini saya mengincip duren—padahal dulu saya makan duren dua sekali seminggu. Maka, bismillah, saya incip dua biji (pongge), tidak lebih. Saya rasakan legitnya; saya nikmati sensasinya. Setelah itu, saya minum pollenergy dan propolis.

Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Tampaknya penawar itu bekerja dengan baik. Ah bukan. Tepatnya, saya yakin, basmalah itu yang telah melenyapkan efek samping makan duren. Saya bersyukur bisa menyenangkan keluarga, dan kondisi fisik saya baik-baik saja.*

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Duren sebesar kepala anak SMP? Emang anak SMP kepalanya sebesar duren, pak Khoiri? Hehehe...ada2 saja pak Khoiri ini... silakan makan duren, tapi jangan banyak2.!

22 Feb
Balas

Benar, Pak Edi. Sy hanya berani incip.

22 Feb

Dengan bismillah segala kekhawatiran hilang. Alhamdulillah baik-baik saja kan Bapak Khoiri. Tapi ya kita tetap harus hati-hati. Icip-icip gak papa kan cuma dua pongge. Sisanya saya mau Pak....heee Sugeng enjang Bapak cerita nya bagus

22 Feb
Balas

Kapan-kapan kalau ada kopdar, mestinya digelar acara incip duren ya

22 Feb

Saya juga penggemar duren.. selama musim duren tahun ini sya sudah lima kali dalam suasana yang berbeda. SEgala sesuatu bila tidk berlebihan tidak akan menimbulkan masalah Pak

22 Feb
Balas

Terima kasih, Bu. Nasihat yang bijak

22 Feb

jadi pingin pak...

22 Feb
Balas

Perlu incip, Bu.

22 Feb

Terima kasih kudapan paginya Pak Emcho... Lezat selezat duren itu

22 Feb
Balas

Makasih juga, Pak Cecep.

22 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali