Much. Khoiri

Penggerak literasi, trainer, editor, dan penulis buku 33 buku dalam 6 tahun. Alumnus International Writing Program di University of Iowa (USA, 1993);...

Selengkapnya

MENULIS KEBAIKAN

Oleh: MUCH. KHOIRI

Menulis bisa diibaratkan menanam benih tumbuhan. Benih yang baik akan tumbuh baik, benih yang cacat juga akan tumbuh cacat. Tatkala berbuah, buahnya pun akan sesuai kualitas benih yang ditanam.

Setidaknya, begitulah pengalaman saya membantu Bapak bertani di desa sewaktu remaja dulu. Benih padi yang kami semaikan, lalu kita tanam, siangi, rawat, beri pupuk, airi cukup, dan sebagainya--hasilnya memuaskan. Namun, kami pernah gagal panen akibat pemilihan benih yang salah.

Gagal panen juga terjadi akibat perawatan yang kurang bagus, dan serangan hama. Jika kurang dirawat, sepetak sawah tanaman padi bisa ditumbuhi rumput teki di sana-sini. Hama semacam belalang juga berdatangan. Tidak peduli, meski tanaman padi itu berasal dari benih bagus, semuanya akan amblas hanya beberapa malam.

Begitulah, menulis itu ibarat menebarkan benih di sawah-sawah pikiran dan jiwa pembaca. Bayangkan, berapa hektar sawah-sawah itu. Anggap saja sawah-sawah itu subur dan siap ditanami berbagai benih tanaman. Apa pun akan tumbuh di sana, sesuai apa yang disemaikan atau ditanam.

Maka, dengan menulis, mari tanam benih kebaikan di mana-mana. Berapa ribu atau juta (sawah) pembaca yang kita inginkan? Terus tebarkan kebaikan itu. Kita tebarkan kebaikan dengan cara yang benar, santun, dan beradab. Kemudian, kita rawat pula dengan kebaikan, juga lewat tulisan, juga dengan benar, santun, dan beradab.

Menulis memang bisa tentang apa saja, sama dengan menanam: juga bisa menanam apa saja. Namun, jika sama-sama menghabiskan tenaga-biaya-dan-pikiran, mengapa perlu menanam benih fitnah dan kebencian? Orang sah-sah saja menulis buku "7 Hari Mahir Mengaji" atau "7 Hari Mahir Jadi Hacker" misalnya, namun nilai kemanfaatannya akan berada di nomor pertama.

Tulisan tidak akan berhenti hanya pada tumbuh di sawah pembaca. Amat boleh jadi, amanat tulisan akan berkembang dan dikembangkan lebih lanjut--mungkin menjadi ungkapan dan tulisan baru. Ada semacam "multilevel marketing" amanat tulisan. Penyebarannya akan sangat dahsyat, terlebih di kalangan penulis. Juga di era digital begini, sebuah tulisan bisa beranak-pinak dalam waktu hitungan jam.

Bayangkan, berapa "anak-cucu" tulisan yang muncul dari buku tentang mahir mengaji. Mungkin puluhan atau ratusan, mungkin munxul di fesbuk, instagram, blog, website atau calon buku. Lalu, tulisan-tulisan itu akan menginspirasi banyak orang lagi. Subhanallah, betapa indahnya benih-benih kebaikan itu bertebaran di mana-mana. Semuanya akibat satu kebaikan yang kita tulis dalam buku "Mahir Mengaji" tadi.

Sebaliknya, bayangkan, berapa orang yang akan mengembangkan tulisan tentang "Mahir Jadi Hacker" itu. Jangan remehkan, jumlahnya juga bisa tak terduga alias banyak. Terlebih, hacker itu bukan sekadar untuk iseng, melainkan bisa digunakan untuk mencari uang. Bertumbuhlah orang-orang yang menebarkan ilmu hacker. Dan, itu juga akibat "ilmu" yang ditulis dalam buku "Mahir Jadi Hacker". Jika kita berada di pihak ini, siap-siaplah menangis sepanjang waktu.

Menulis tentang mengaji atau hacker, tentu sebuah pilihan. Namun, saya tegas memilih yang tentang mengaji. Maksudnya, saya memilih menulis tentang kebaikan. Sama-sama mengeluarkan energi-biaya-pikiran, namun menulis kebaikan akan berbuah kebaikan. Jika ada yang memilih menulis tentang hacker, silakan, saya menghargainya. Mari kita tanggung akibatnya sendiri-sendiri.

Mungkin perlu kita camkan bahwa menanam padi di sawah yang baik pun akan tumbuh rumput di sana. Maka, perlu kita menyiangi dan merawatnya. Namun, sebaliknya, menanam rumput di sawah paling subur pun, tidak akan tumbuh padi.

Jika kita menulis kebaikan, mungkin ada efek-efek yang kurang menyenangkan, itu biasa, sepanjang lebih banyak yang mencintainya. Jika kita menulis tentang kebencian, kebaikan apakah yang yang bisa dipetik selain kebencian itu sendiri?

Maka, sekarang, semua pilihan berada di tangan Anda, memilih menulis tentang kebaikan ataukah non-kebaikan. Masing-masing memberikan risiko dan konsewensi yang panjang dan berkelanjutan. Mudah-mudahan Allah melimpahkan petunjuk dan bimbingan-Nya.*

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

inspiratif

14 Feb
Balas

B Farida, terima kasih

14 Feb

Luar biasa pak Khoiri, selamat datang di Gurusiana, semakin banyak ahli dalam bidang menulis di Gurusiana akan semakin baik, untuk saling berbagi dan memotivasi

14 Feb
Balas

Bp Syaihu, terima kasih banyak. Saya juga ingin terus belajar kod teman2

14 Feb

betul sekali...ada amal jariah...ada pula dosa jariah

14 Feb
Balas

Istilahnya mungkin bukan "dosa jariyah".

14 Feb

Senang dengan tulisannya ysng menginspirasi Mari menulis untuk mengaji dan berbagi

14 Feb
Balas

Bu Sri Sugiastuti, terima kasih banyak

14 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali